Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Perjuangan Seorang Ibu

Perjuangan seorang ibu
Gambar @google
Aku melihat senyum yang tergelar tipis di tepian hati seorang ibu. Ibu yang seharusnya berada di rumah, namun pada kenyataannya harus bergelut dengan kejamnya angin malam yang seakan-akan mampu menusuk hingga ke tulang iga. 

Seorang ibu yang mempunyai kekuatan baja mampu menghidup dua orang putri kecilnya yang masih duduk di bangku sekolah dasar dan putri sulungnya yang masih berjuang pula mengenyam pendidikan di perguruan tinggi dengan segala keterbatasan semenjak sang ayah dipanggil ilahi rabb dalam kedamaian yang abadi.

Malam itu ibu yang sangat pantas menyandang pahlawan keluarga itu bergelut dengan kerasnya tanah karena kekeringan yang akhir-akhir ini melanda desa tersebut. Semua usaha terasa semakin berat dikala padi yang sedang ditanam di sawah yang menjadi harapan hidupnya harus berada dalam ujung tanduk. 

Kering, layu dan hampir mati itulah sedikit gambaran mengenai persawahan di desa tersebut  begitu pula sawah bu “Sus” itulah nama ibu yang sangat gigih itu biasa dipanggil orang sekitar. Untuk mempertahankan agar padi dapat bertahan hidup ibu Sus itu haruslah mengairi sawahnya dengan bantuan mesin. 

Lebih dari 30 liter bensin telah habis untuk mengairi sawah ibu Sus. Dengan segala keterbatasan aku sempat melihat raut wajah yang seolah-olah menjerit di dalam batin ibu Sus. Aku adalah anak pertama dari ibu yang sangat keras berjuang demi masa depan putri-putrinya. 

Keluarga kami bukanlah keluarga mampu, kami tergolong keluarga sederhana, aku berjuang di perguruan tinggi demi mengangkat harkat dan martabat keluarga ku. Untuk membayar uang kuliah pun aku harus menekan perutku yang berdendang ria walau hanya sepotong roti. 

Aku dan ibu ku saling berpikul untuk menopang kerasnya kehidupan ini, mengumpulkan receh demi receh untuk membeli beras, kebutuhan dapaur, dan kebutuhan lainnya. Panen raya yang hanya di nikmati setahun sekali terasa tak dapat mencukupi kebutuhan yang semakin hari semakin mahal.

Hanya ada satu tekad dalam hidupku yakni terus semangat apapun yang terjadi meskipun terkadang aku pernah mengalami kekalahan. Bagiku berjuang meskipun dalam kekalahan itu bukan sebuah keburukan namun putus asa karena kegagalan itulah kekalahan yang paling fatal dalam hidupku. 

Bukan sekedar rasa letih namun akupun terkadang merasa berat namun itu semua tetap akan kulakukan demi janji terakhir pada almarhum ayah tercintaku. Ayah ku pernah meminta ku untuk dapat terus semangat dan menyelesaikan study ku, hinaan, cacian, sebelah mata terasa telah tebal kudengar dalam telinga ku. 

Dihina karena miskin, dipandang sebelah mata karena hidup dalam kesederhanaan itulah sarapan pahit bagiku. Batinku pun terasa ingin memberontak, mampu membuktikan walau tetap dalam kerendah hatian bahwa kamipun bisa hidup layak seperti kalian (yang pernah menghina).

Memang kusadari terkadang apa yang kita inginkan tak selamanya harus kita dapatkan. Meskipun ayahku tak sempat melihat kesuksesan ku kelak namun aku percaya restu nya tak akan terhapus dalam aliran darah ku. 

Aku dan ibu ku sama-sama harus berjuang dalam segala terjal nya jalan kehidupan-kehidupan ini. Aku berjuang di perguruan tinggi dengan bertemankan buku sebagai gudang ilmu, disisi lain ibu ku harus berjuang dan menangkis terik matahari yang mampu membakar kulit yang semakin hari semakin keriput ini dengan bersahabat dengan cucuran keringat perjuangan. 

Menanam sayur mayur dengan mengolah lahan yang keras menjadi lembut, menyirami nya dengan air yang harus diambilnya nan jauh disana, menjadi buruh tandur (dalam bahasa jawa), menjadi pencari kayu bakar, dan harus melakukan semua pekerjaan-pekerjaan kasar lainnya hanya demi putri tercinta.

Takdir pahit ini bukanlah sesuatu yang membuat kami berhenti mengubah garis hidup ini. Aku dan jasad ku tak akan lapuk karena keterpurukan cacian dan hinaan lah yang justru membangkitkan ku dari tidur panjang ku dalam linangan air mata. 

Sekali aku berharap maka dua kali itu pula aku akan berjuang mati-matian menjadikan nya suatu kenyataan. Lemah itu bukan suatu pilihan bagi ku namun kekuatan adalah jawaban hidup bagi ku.

Aku tak akan lagi pernah membiarkan mata-mata yang lain memandang ku dan keluarga ku dengan sinis. Kini semakin jelas terlihat perjuangan-perjuangan itu telah mulai menuju kemenangan nya, sedikit demi sedikit semua semakin berubah. 

Kemiskinan telah mampu mengajarkan ku banyak arti kehidupan, perlunya menghargai orang lain, dan saling menolong  terasa mampu mengindahkan kehidupan yang sesaat ini. Dalam keraguan ku tepiskan deru ombak yang terkadang menghalau langkah-langkah ku menghapus kelamnya masa lalu yang penuh dengan kemenderitaan.

Kini aku merasa menjadi orang yang paling beruntung, karena setidaknya meskipun ayah tak lagi berada dalam dekapan hangatku, namin ayah telah ajarkan ku arti keikhlasan, kasih sayang yang sesungguhnya dan juga mengenalkan ku pada tuhan-ku.

Petang ini seakan-akan awan berjejer cepat, aliran darah berdesir kencang, nafas dan juwa semakin saling memberontak, ingin sekali lepas namun kusadari aku tak akan bisa lepas  dari realitas yang sesungguhnya. 

Hatiku terenyuh ketika harus melihat bagian terindah yakni ibu ku harus berjuang keras melangkah jejak-jejak yang terasa semakin berat, awan yang mulai tak bersahabat ditambah deru angin yang menusuk raga yang lemah itu berjalan kesana kemari berharap ada yang mau meminjamkan beras untuk esok ketika fajar menyingsing. 

Aku yang seharusnya dapat meringankan sedikit beban ibu ku justru tak mampu berbuat banyak, aku sadari aku masih terikat dengan janjiku sendiri untuk terus melanjutkan kuliahku dan mampu bekerja layak untuk menghidupi keluarga kecilku namun disisi laina ku ingin berbuat lebih dari apa yang telah ku perbuat.

Kebimbangan dan keraguan bertubi-tubi menghantui benaku, ingin sekali rasanya aku berhenti kuliah agar tak begitu membebani ibuku dan bekerja namun ibuku mampu kembali menguatkanku, bahwa apa yang sekarang terjadi pasti indah pada waktunya. 

Mundur di perguruan tinggi sungguh disayangkan karena tak lama lagi gelar yang ku impikan akan ada dalam genggamanku namun untuk terus meneruskan impian ini kusdari terasa sangat sulit bahkan nafas demi nafas semakin terasa tersendat-sendat. 

Kurasakan jalan hidup ini menuntut ku dewasa dalam berbagai hal. Sebuah perjuangan yang sesungguhnya harus aku dan ibu ku lalui. Rintangan demi rintangan ku coba singkirkan demi masa yang lebih indah. Sebagai orang demi masa yang lebih indah. Sebagai orang tua tunggal, ku rasa ibu ku telah berjuang lebih dari yang seharusnya.

Konflik batin bergelayut di diriku ketika kudengar lirih dan kucoba rekam baik-baik kata-kata sederhana ini namun sangat berarti bagiku kala itu ibuku berucap 

“Nak….”
“Semoga apa yang kau cita-citakan tercapai, semoga allah memberikan jalan rezeki, jodoh yang baik untuk mu.”
“Lhoo…, kok ibu ngomong gitu, ibu kok nangis..”

“Ibu hanya sedih saja banyak orang sudah faham dengan pilihan mu untuk tetap kuliah, ibu tahu kamu kuliah untuk mengangkat derajat keluarga, untuk membanggakan keluarga, namun orang diluar sana menyangka kamu hanya ngabis-ngabisin uang dan justru semakin membuat melarat keluarga ini..”
“Ya sudahlah bu, biarin orang berkata apa, aku hanya ingin doa dari ibu saja, itu sudah sangat membantu ku”.
“Ibu takan pernah melarikan mu dalam doa ku disetiap sembah sujudku”.
“Terima kasih ibu, insyaallah semua akan baik-baik saja.”

Semenjak ku memejamkan mata dan berdoa agar sedikitpun aku tak mengecewakan ibu dengan segala harapannya untuk keluarga ini jika aku bisa memilih, aku lebih baik memilih hidup untuk membahagiakan orang tua ku daripada diriku sendiri. 

Ibu ku telah banyak memberi ku cambukan pelajaran hidup jika kehidupan harus diperjuangkan dan hanya diri sendirilah yang mampu menjadikan impian itu sebagai sebuah kenyataan bukan khayalan semata. 

Doa demi doa ku senandungkan dalam tiap aliran darah ini, semoga allah melancarkan jalanku menggapai asa ku, ibu dan kedua adiku adalah intan permata yang tak kan terbayarkan walau dengan dolar Amerika sekalipun, adik dan ibu ku bagaikan lentera di kala kegelapan menerpaku, mereka juga bagaikan lingakran hangat di kala aku kedinginan. Mereka adalah alasan terbesar ku mampu berjuang hingga detik ini. 

Rasa kesyahduan semakin bergejolak, air mata jatuh hingga tak  kusadari mencoba mengenang ayah yang tak kan pernah terganti perjuangannya adalah kebanggaan yang belum sempat ku balas, kerinduan yang tak mungkin menemukan jalannya, hanya doa dan melihat makan yang dapat kulakukan untuk sekedar mengabdi pelipur kerinduan ini. 

Ayah yang tak pernah memarahiku, ayah yang selalu menjadi tauladan perasaanku, ayah yang selalu mengarahkan ku dikala diri ini gundah gulana, semua kenangan tentang beliau akan kusimpan baik dalam sanubari terdalam ku dan bukti ku padamu kini hanyalah lewat doa-doa untukmu, dalam keabadian nan jauh disana. 

Engkau akan tetap menjadi terbaik dan tak akan terganti sejenak ku hapus derai air mata ini mencoba bangun dari kesedihan dan kembali membakar semangat untuk senyum indah ibu dan adik yang amat sangat kusayangi.

Di persimpangan ini kulihat perjuangan keras ibu ku menghidupi kami anak-anaknya, di simpang jalan ini pula aku harus berjuang sekuat tenaga ini dibalik cacian dan setengah mata untuk agar tetap meyakini perjuangan ku ini akan dalam kesuksesan seperti yang aku impikan. 

Perjuangan yang sama-sama terasa berat harus aku dan ibu ku lakukan, semua hanya untuk selangkah lebih baik. Dalam keluasan hati, aku tersenyum tipis mencoba menghampiri peradian kesuksesan itu. Dan bila saatnya telah tiba akan ku katakan pada dunia bahwa inilah perjuangan yang sesungguhnya.

Semua kisah ini akan ku ukir dalam jejak-jejak tepian kisah hidupku, berawal dari sebuah keterbatasan, hinaan dan cacian hingga sebutir tekad namun teriring besarnya asa, Allah mempunyai jalan sendiri untuk hamba-hamba nya, satu pintu tertutup bukan berarti pintu-pintu lain tak ada.

Namun justru banyak pintu yang menanti dalam utuhnya sebuah kesuksesan. dalam kesuksesan yang akan menghampiri ku ini akan kutulis sebagai bukti perjuangan yang tak kan pernah sia-sia. Dan kini saatnyakukatakan “Selesai” pada jejak-jejak  kelam dan kejamnya sebuah kehidupan.

Selamat datang masa depan selamat jalan keraguan dan salam kesuksesan untuk buturan-butiran perjuangan hidup yang sesungguhnya.