Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Keraguan Untuk Memilih

Keraguan untuk memilih
Gambar by Google

Syahdu terdengar desahan suara batin. Kulihat sejenak bintang di malam itu tak lagi bersinar cerah seakan merasakan apa yang kini kurasakan. Kucoba membuka jendela kamar, berharap mendapatkan angin segar yang mampu menyelinap dalam kelabunya hati ini. 

Disaat itu juga, aku masih memandang langit luar, angin yang kuharapkan sesekali datang aku menerpa wajah ku yang mulai sembab. Terasa dingin, mengernai setiap sisi lapis kegundahan sukma ini. 

Hidup ku terasa susah, payah dan berat. Otak ku mendidih, hati ku membeku, tangan ku tak mampu bergerak. Kaki ku tak dapat melangkah untuk sekedar berpindah tempat. Terasa kaku dan berat tak sanggup aku berbuat apa-apa. Hanya keluhan hati yang selalu membatin dalam diriku. Air mata ini selalu berderai di pipi ku saat aku terus seperti ini.

Aku merasakan kebimbangan dalam tepian hati ini lantaran sebuah perjuangan dan pengorbanan antara cinta dan restu orang tua. Itulah yang selalu menghantui ku akhir-akhir ini. Aku sangat mencintai dia, karena bagiku dia adalah orang yang sudah mengajarkan ku tentang banyak hal. 


Semenjak aku mengenalnya dua tahun yang lalu, ia  telah memberikan ku perubahan pasti. Edo adalah nama lelaki yang sering aku panggil, aku selalu sapa dia di kala diriku dalam sendiri. Semenjak aku aku mengenalnya, banyak hal yang membuatku terasa indah mewarnai hari-hari ku. Di  saat aku merasa senang, ia selalu menemani dan di saat aku sedang gundah karena masalah ia selalu menasihati ku untuk selalu bersabar dan ikhlas.

Aku mengenalnya sejak pertama masuk kuliah di semester satu. Sejak itulah kedekatan ku dengan Edo karena sering bersama bergabung dalam kelompok saat mengerjakan tugas-tugas mata kuliah. Sampai akhirnya ia meminta ku untuk menjadi kekasihnya. 


Tidak ada tanda-tanda kami pacaran atau jadian. Justru yang kami rasakan adalah sama-sama kenyamanan satu sama lain. Hal itu, ia ucapkan saat pulang kuliah. Terus terang aku kaget, bergetar diri ini karena malu. Hingga akhirnya aku pun memilihnya untuk menjadi kekasih Edo. Berjalannya waktu, aku terus bersama dengan Edo hingga orang tua ku  merestui hubungan ini. 



Aku  merasa senang dan bahagia. Seiring berjalannya waktu, bergantinya hari demi hari terasa sesak nafas ini jika mengingat kebersamaan dulu waktu bersama dengannya. Edo tak lagi seperti dulu, aku kehilangan kehangatan cinta yang dulu pernah tertanam indah dalam hati. Aku tak lagi merasakan perhatian seperti dulu lagi layaknya orang berpacaran. 



Dimanakah kekasih ku yang dulu? Dimanakah janji untuk tidak akan berhenti mencintai yang selalu kau bisikan disetiap detik itu? 

Musnah, pupus, kandas semua impian yang sudah jauh kubangun bersamamu ternyata sia-sia tinggal cerita. Hatiku hancur,  batinku kelu seolah kecewa padanya. Entah apa yang membuatnya berubah, tidak ada alasan pasti yang Edo ucapkan padaku. Sifat kejauhan Edo mulai aku rasakan saat hari-hari ku di kampus tidak lagi dengannya. Ia seolah menjauh dari ku. 


Ketika ku pandang raut mukanya, justru ia langsung berpaling. Ketika aku menghampirinya justru ia pergi menjauh. Aku tak tahu apa penyebabnya yang membuatnya berubah total. Dulu aku membanggakan dan mengaguminya karena ia adalah laki-laki yang baik. Tetapi ternyata karena perubahan itu aku pun akhirnya juga ikut menjauh mencoba untuk melupakannya. 

Dari kejadian ini, sebenarnya aku masih penasaran dan ragu. Kenapa ini bisa terjadi? Apa karena aku berasal dari orang yang tidak mampu, tergolong rendah status sosialnya jika dibanding dengan yang lain. Apakah aku terlalu manja, sehingga membuatnya risih sebagai wanita yang kurang teguh dalam pendirian. 


"Oh tuhan apa yang harus aku lakukan. Aku tidak tahu harus berbuat apalagi agar bisa bersama dengan Edo."


"Begitu singkat ia memutuskan hal ini hanya dengan kalimat sms."
“Maafkan saya Rita, mulai hari ini saya menyudahi hubungan ini."

"Kuharap engkau bisa menemukan pilihan yang terbaik dari ku."

(EDO)

Ya!! kalimat itu yang ia kirim lewat sms. Entah ada masalah apa sampai ia memutuskan hubungan yang sudah terjalin selama satu tahun. Dengan cepat aku membalas pesan sms itu, tetapi tidak satu pun ia balas. Saat itu aku sangat kecewa bahkan air mata ku telah kering untuk mencintaimu. 

“Edo..!! Dulu kau pernah berkata untuk setia dan bersama denganku.”
“Tapi kenapa perkataanmu kau ingkari tanpa alasan yang jelas.”
“Kalau memang benar kamu memilih hubungan ini berakhir aku mencoba untuk ikhlas.” 

Kamu yang dulu selalu mengajarkan ku untuk bersikap sabar dan ikhlas menghadapi masalah. Kini akan aku buktikan kepadamu langsung Edo. Aku pun dapat bertahan meskipun hari ku teramat perih. Dan kini dalam kebisuan hati, kembali lagi aku harus kehilangan kamu. 


Luka-luka dan air mata yang selalu kudapat karena mencintaimu.  Arti kata setia sudah ku tak pernah dapatkan dari mu lagi. 

Dalam deru ombak ku coba kuatkan batin ini, akan aku coba untuk selalu tegar menjalani garis hidup ini. Tuhan berikan sedikit petunjuk untuk kepastian  jalan hidup ini. Jika memang dia jodoh ku karena ujian ini, maka mudahkan dan lancarkan lah alur cinta yang pernah kita jalin bersama dulu. 


Apa masalahnya, pertemuan aku dengan Edo di kesempatan yang berbeda agar bisa bertanya banyak hal kenapa dia berubah dan memutuskan hubungan ini dengan kalimat sudah berakhir. Namun jika Edo bukan yang terbaik untuk ku maka hapuslah dia dari pikiran ku dan bantu aku untuk  melupakannya, Tuhan..!!

Pikiran ku terasa penuh dengan masalah. Hati ku terasa tak mampu lagi menampung merasakan kesakitan batin. Tetapi lambat laun, seiring dengan berjalannya waktu ada orang tua yang selalu mengingatkan ku untuk melupakannya. 


Ibu selalu menasihati ku dengan sabar. Ibu menceritakan tentang masa dimana ibu waktu masih remaja sama seusia dengann ku. Satu persatu ibu ceritakan tidak jauh berbeda dengan kisah hubungan ku dengan Edo. Semua kata-kata ibu terasa menyejukkan hati yang kecewa karena cinta.

“Ibu terimakasih, engkau adalah yang segalanya bagiku.” 
“Maafkan anakmu ini ibu, yang selalu mengecewakanmu.” 

Namun, hari demi hari kenangan-kenangan indah saat bersama dengan Edo tidak mudah aku lupakan. Terlalu berat aku melupakannya, teramat sulit pula aku bertahan mencintainya. Seperti rembulan yang tak disapa oleh sang malam, laksana mentari yang tak bersahabat dengan sang fajar dalam kesejukan embun, siksa batin ini semakin menyempurnakan kesakitan ini. 


Aku tak tahu lagi di manakah akan ku temui cahaya indah kala aku bersama Edo, mungkinkah cahaya seperti itu akan ku dapatkan lagi. 

Hidupku bagaikan dua sisi logam yang berbeda. Disaat aku merasa susah untuk melupakan Edo, ada laki-laki lain yang juga mengatakan perasaannya padaku.  Namanya adalah Dimas. Hal ini semakin membuatku terjepit diantara dua pilihan. Logam yang berubah menjadi bola panas yang tiap hari berputar membakar seluruh hati dan perasaan ku sampai ke ulu hati. 


Aku tak tahu mau dibawa kemana raga ku yang lemah ini. Duri pedih dihati ini telah menusuk dalam, mencintai yang tak mungkin lagi di cintai. Aku percaya setiap perjalanan hidup tak ada yang selamanya indah. 

Restu orang tua bagiku adalah segala-galanya, doa orang tua bagiku adalah seperti air di kala aku berada di padang pasir. Aku percaya semua akan seperti biasanya meski aku harus melepaskan satu sisi logam yang sangat berarti dalam penyemangat hidupku. 


Tuhan kini semua terserah padamu, aku hanya bias menjalani apa yang telah kau gariskan, jika memang dia jodohku maka bukan aku yang mencarinya dan juga bukanlah dia yang mencari ku, namun cinta itulah yang akan mencari tempatnya yang dulu membara indah. 


Tak ku pungkiri aku memang tak baik-baik saja, aku tertatih-tatih melepas mu, melihat mu pun aku tak mampu lagi, aku takut cinta itu hadir kembali sebelum kau berubah menjadi dirimu yang dulu ku kenal dirimu memang jauh disana namun bagiku untuk mencoba mengenang mu aku tak butuh banyak waktu. Sekejap aku menutup mata kau masih  begitu dalam ingatanku. 

Rasa ku semakin membahana terbang lepas tanpa sedikit pun tepisan senyum. Terbang berharap mencari jawaban atas cinta yang pernah indah dan mempesona. Tak  ku sangka ketika aku mencoba  mengepakkan sayap sejauh mungkin untuk memberontak dari cinta yang membingungkan. 

Sayap-sayap ku patah di tengah samudra yang luas seakan akan semakin tak rela dan semakin ingin menghindari kenyataan bahwa diri ini harus ikhlas hidup tanpa diri dan bayang mu. Kasih bagaikan pelangi yang memberi warna dalam lembaran hari-hari ku. 

Kasih ku tak terbalas, setia ku dib alas penghianatan, namun besarnya cinta ini tak mampu membenci mu sedikit pun. Aku tak mau mengecewakannya sedirkit pun, air matanya terlalu berharga untuk hidupku. 

Disisi lain orang tua bagiku sebuah prinsip tunggal dalam goresan-goresan perjuangan ku. Restunya bagiku seperti restu tuhan pada hamba-hamba nya, kata-katanya laksana petunjuk dalam berbagai hal, dia nya seperti air yang tak kan bias habis. 

Raga ku terbujur kaku, ketika harus memilih diantara dua pilihan yang sama-sama berarti bagi sisa-sisa hidupku bagaikan mengejar benang basah, sesuatu yang indah namun harus sesulit ini untuk dijalani. 

Serasa lebih dari sebuah pilihan. Aku harus rela melepas bintang di peraduannya demi mendapat surga dan cahaya dalam tiap langkah. 


Untuk mengenal mu aku tak cukup banyak waktu, untuk mencintaimu tak butuh  banyak massa, namun untuk melupakan mu bagiku sepanjang hidupku pun tak kan bias menjanjikan nya. Aku melepas mu bukan karena tak lagi mencintai mu, namun karena untuk bersanding dengan mu saat ini teramat sulit kurasakan. 



Orang tua ku memang tak secara langsung memutuskan bahwa dia nil dalam penilaiannya namun aku dapat merasakan sesuatu yang belum sempat terucap dari kata-kata bijak dari seorang ibu. 

Angin malam berhembus bebaslah, aku tak akan lagi menghalangi mu meskipun kau dapat merobohkan ku, rembulan tersenyum lah kau meski tahu ada lara dibalik cahaya mu. Aku ingin menjadi yang terbaik, dan semoga pilihan ku ini tak salah, orang tua ku adalah satu-satunya kunci segala aspek kehidupan ku. 

Aku terus mencoba menutupi kesedihan ku pada orang lain, ku coba menghibur diri dengan merekam kuat bahwa tidak ada orang tua yang tidak menginginkan yang terbaik untuknya dan bagiku apa yang menjadi perintahnya adalah jalan terbaik bagi hidupku nan jauh disana, ku harap masih ada pintu lain yang mau membuka diri untuk dapat ku singgahi. 


Air mata dibalik tawa yang tertahan seakan-akan memperjelas gambaran kekalahan ku. Aku tak mampu menyalahkan siapa-siapa, karena sejujurnya ku sadari semua yang terjadi ini karena aku yang dari dahulu tak mampu menentukan sikap. 

Ketika aku duduk termenung menatap nanar sebuah awan yang syarat akan makna, tak kusangka, sang ibu datang mencoba menyapa dan mengerti kegundahan ku kala itu, ku dengan bisikan-bisikan syahdu nya.

“Nak. Kamu kenapa?”
“Akhir-akhir ini kamu sering murung?” 
“Apakah ada masalah lain, selain tugas kuliah.” Tanya ibu penasaran.
“Ah..!! Tidak ada apa-apa kok buk.” Jawabku singkat.
 “Nak!! kamu kamu jangan berbohong.”

“Ibu tahu apa yang membuat mu sering diam menyendiri.”
“Ah! Bisa aja.” Jawabku.
“Apakah kamu masih cinta sama Edo”
“Ah!! Sudahlah bu, tidak usa dibahas lagi. Aku juga udah capek kok sama dia” 
“Toh kalau jodoh tidak akan kemana.”

Kini tibalah di saat-saat pahit dalam hidupku. Memendam rasa yang tak tahu sampai kapan akan berakhir. Kini hidupku sendiri pun aku tak tahu akan ku bawa kearah mana. Tulang rusuk ku telah hilang, relung hatiku telah terkubur dalam bayang yang dulu pernah menjadi pegangan ku. 


Semakin lama semakin berat aku melupakan Edo. Semakin sulit aku menjauh dari kisah yang pernah aku alami bersamanya. Meski Edo sudah pergi meninggalkan ku saat ini, tetapi berat aku melupakannya. Bayangan Edo semakin pekat terasa dalam lubuk hati meracuni kisah saat bersamanya sejak dulu. Semakin lama semakin kuat kurasakan. 

Tetapi di sisi lain disaat aku terasa berat melupakan Edo justru ada Dimas yang mencoba menunggu kepastian jawabanku untuk menerimanya sebagai kekasih. Dimas juga sangat baik padaku. 

Ternyata ada yang sempurna melebihi keindahan yang menyatukan segala perbedaan dan keraguan hati ku tak mampu lagi bertahan ketika belahan hatinya telah enggan memberikan tempat yang abadi. 


Banyak hal yang ku dapat dalam kisah dua sisi logam ku ini, pertemuan adalah keindahan namun perpisahan selayaknya pasti meninggalkan air mata. Selalu ada perpisahan dalam segala hal termasuk diri ku saat ini memilih satu sisi logam dalam dua tepian sisi logam.