Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sebuah Penantian

Sebuah penantian
Gambar by Google

Sinar mentari seakan malu menampakkan cahaya di antara pepohonan yang berdiri tegak sekitar rumahku. Hanya tebaran kabut putih yang nampak dari kejauhan menyelimuti daun yang mulai menguning. Aku menatap sinar mentari tersebut sembari membuka bilah jendela kamar. 

Kehangatan mulai terasa menjarah ke pori-pori kulitku hingga membuat seakan merinding. Beberapa burung mulai beterbangan diantara ranting-ranting pohon kesana kemari seakan adu kecepatan dengan yang lainnya. Sesekali mereka menunjukkan kicauan yang paling merdu nan indah didengar.

Aku terpaku menyaksikan beberapa burung yang terbang seolah mengajak ku bermain. Pagi yang sangat indah dan menakjubkan. Aku terhanyut dalam kehidupan sekumpulan burung yang baru saja terbang kesana-kemari. Alangkah damainya mereka, memadu kasih dan berbagi bersama dengan yang lainnya. Penuh dengan semangat dan keceriaan. 

Sementara aku masih berdiri terdiam di ambang pintu rumah. Dan entah kenapa terlintas dalam benakku akan seorang sahabat yang aku kenal tujuh tahun yang lalu. Ya!! Namanya Hekma.  Sosok perempuan yang sampai sekarang  masih terbayang di pikiran ku. 

Bagaimana kabarnya sekarang? Apakah dia baik-baik disana! Berbagai pertanyaan aku utarakan  dalam hati. Inikah namanya rindu? Yah mungkin aku sedang merindukannya. Tapi…..? aku bukan siapa-siapanya, pacar juga bukan. Tapi kenapa rindu  ini terasa berat? Ah…!!! Pikiran ku makin kacau, kenapa aku harus mengingatnya. Apa dia masih ingat denganku! Hufftt…!! Payah! 

Saat itu aku kembali masuk ke kamar lalu ku hidupkan sebuah komputer. Aku buka file lama yang isinya memuat beberapa foto Hekma di dalam folder. Ternyata foto-fotonya masih sama seperti yang dulu baru aku kenal. Aku lihat wajahnya yang polos tersenyum manis menatap kamera. 

“Hekma, kau cantik sekali!”. Gumamku dalam hati. 
“Semenjak kau pergi merantau, aku hanya bisa merasakan apa yang sedang aku rasakan saat ini. “Sebuah rindu akan kehadiranmu Hekma”.

Saat ini aku hanya bisa memiliki bayangan semu yang ada dalam hati. Berbeda di waktu dulu sebelum kau pergi merantau. Ternyata rasa rindu yang selama ini aku rasakan semakin berat.

“Oh, tidak! Diakan menganggapku sebagai sahabat, tidak lebih dari itu. Kenapa aku yang terlalu merindukannya, belum tentu dia merindukanku, belum tentu juga dia ingat aku. Aku tidak bisa terus begini. Aku harus  bangkit dan bisa melupakan segala tentangnya.

“Untuk saat ini aku akan belajar melupakan mu Hekma.”
“Aku tidak akan berharap kamu menjadi pilihan terakhir dalam hidupku.”
“Aku akan mencoba pergi dari dari penantian ini, dan tidak akan peduli denganmu.”

“Taaaaaapi apakah aku bisa? Apakah aku mampu.!! Huftttt!!! begitu sulit rasanya. 

Saat itu tanganku terasa kaku dan spontan aku hantamkan ke meja komputer agar tangan ini kembali normal seperti biasa. “Braakkk!!”

Antara emosi, benci, rindu jadi satu dalam benakku. 
“Kenapa bisa seperti ini.”
”Bisakah kau mengerti aku Hekma?”

Dan disaat itu juga aku mulai perlahan melupakannya. Satu persatu folder foto telah aku hapus. Ini perlu aku coba. Biarlah foto yang aku hapus, tidak mungkin secepat ini aku melupakannya dari ingatan. Aku masih ingat dengan ucapan yang pernah dia katakan dulu.

“Wan!! Maafkan aku. Ini masalah hati dan perasaan antara seorang sahabat”. Tidak lebih dari seorang pacar!! “Kau tau itu?” Ungkapnya singkat padaku benar-benar menyesak. Ya aku mengerti! Benar saja, dia telah jujur menganggap ku sebagai sahabat. Sekarang waktu yang teramat panjang aku jaga rasa penantian ini, berharap kamu akan berubah Hikma.

“Oh tidak!! Tidak mungkin!!!”
“Jedder!” suara hantaman meja yang aku pukul sagat keras. Aku tak peduli dengan sekelilingku apa lagi dengan komputer yang belum aku matikan. 


Sekian!!

Baca juga : Perjuangan seorang ibu