Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pesan Kakek Yang Terakhir

Pesan kakek yang terakhir
Gambar by Google
Pada hari Minggu kemarin aku pergi ke rumah kakek di desa Berenung. Sebuah desa yang tidak jauh dari tempat tinggal ku. Jalan menuju kerumah kakek tidaklah bagus layaknya di kota besar. Jalannya masih tanah belum tersentuh lapisan aspal. 

Padahal di daerah tempat tinggal kakek sudah ramai penduduk pribumi dan pendatang dari luar daerah. Kebanyakan yang dari pendatang sudah tinggal menetap di daerah itu. Termasuk mereka yang memiliki tanah di lokasi sekitar tempat kakek ku tinggal. 

Setibanya dirumah kakek, ternyata kakek tidak berada di rumah. Aku hanya bertemu dengan dengan nenek yang saat itu sedang membersihkan halaman rumah. Lantas aku menanyakan kemana kakek pergi. 

Kata nenek, kakek sedang pergi ke kebun memanen buah kakau. Aku yang merasa kangen dengan kehadiran kekek rasanya ingin menyusul kakek kebun sekaligus membantu memanen buah kakau. Tetapi nenek justru melarang ku karena khawatir aku sebagai perempuan takut kalau terjadi apa-apa. Apalagi arah jalan menuju ke kebun lumayan jauh. Akhirnya aku menuruti perintah nenek dan menunggu kakek  pulang ke rumah. 

Waktu itu pukul 10.00 menit, saat aku sedang berjalan kebelakang rumah tanpa sengaja melihat tumpukan buah kakau yang lumayan banyak. Lalu aku bertanya langsung kepada nenek.

“Nenek..! Itu buah kakau banyak yang matang, kenapa tidak di kupas saja!” 
“Bolehkah aku yang mengupasnya nek!” Tanyaku yang kedua kalinya pada nenek.
“Oh..! Memang itu sengaja di biarkan Cu..!”

“Bagaimana, kalau aku kupas saja buah kakau itu nek? Biar sekalian aku menunggu kakek pulang dari kebun!” Jawabku yang terakhir pada nenek seolah nenek mengerti maksudku.
“Emm..! ya sudah kalau begitu, silahkan saja?” yang penting kamu hati-hati memakai pisaunya ya? 

“Hemmm...” Aku hanya menganggukkan kepala dan tersenyum pada nenek.

Akhirnya, sambil menunggu kakek pulang aku mencoba untuk mengupas buah kakau yang ada di samping rumah. Banyaknya buah kakau yang sudah terlalu matang membuatku merasa capek. 

Ternyata kulit kakau itu sudah banyak yang mengering dan keras. Tidak lama kemudian, kakek yang aku tunggu dari tadi pagi akhirnya pulang juga. 

Dari kejauhan di depan rumah terlihat olehku wajahnya yang sudah tua semakin mengkriput. Kulitnya sudah tidak kencang lagi seperti yang dahulu. Sekarang hanya kakek dari ayahku yang aku punya. Sedangkan yang dari ibuku sudah meninggal dua tahun yang lalu.

Aku mencintai kakek dan nenek sama seperti aku mencintai kedua orang tuaku sendiri. Cuma karena aku tinggal bersama dengan ibu, jadi aku hanya bisa kerumah kakek waktu libur sekolah saja. Pada saat melihat kakek tepat di depan rumah lalu berlari menuju arah depan menemui kakek yang sedang melepas ikatan tali karet pada sepedanya. 

“Kakek..! Biar aku bantu ya?” Ungkap ku merasa senang karena kakek sudah pulang.
“Oh..! Cucu ku sudah datang ya? Balasnya.

“Iya kakek! Aku baru datang tadi pagi! Waktu aku sampai di sini kata nenek kakek sudah berangkat ke kebun!” Ucap ku lagi, seolah menjelaskan kedatangan ku tadi pagi.

“Apa iya Cu..! Maafkan kakek, kalau tadi kamu datang kakek sudah tidak ada dirumah!”
“Iya, tidak apa-apa kok kek!” Heeheeeee. Jawabku sambil tersenyum.

Setelah selesai membantu kakek menurunkan buah kakau dari sepeda, lantas kakek bergegas pergi ke kamar mandi untuk segera membersihkan badan. Cukup lama aku menunggu kakek mandi sampai air teh yang aku buat untuk kakek sudah tidak panas lagi. 

Aku menunggu kakek di ruang tengah, sambil melihat televisi. Acaranya cukup bagus, sampai aku tertawa sendiri di acara televisi yang aku lihat. Saat aku menoleh kebelakang, ternyata kakek sudah duduk di kursi sofa yang sudah rusak. Kursi sofa yang sudah berumur tua sama seperti usia ku. 

Kata kakek kursi sofa tersebut adalah pemberian dari orang tuaku setelah menikah dulu. Orang tuaku membelikan kakek kursi sofa sebagai tanda terimakasih dan kenang-kenangan dari anaknya.

Masih di tempat itu, kakek terlihat diam tak ada suara. Tayangan televisi yang menurutku sangat bagus tidak ubahnya untuk menghibur kakek. Sedikitpun kakek tidak memperhatikan tayangan televisi tersebut. Aku yang penasaran, lantas berdiri dan mendekati kakek yang sedang duduk di kursi sofa itu. 

“Kakek..! Kenapa air tehnya tidak di minum!” 
“Ini aku buatku untuk kakek loh..!”
“Kakek capek ya!”

Tiga kali aku menyapanya, ternyata kakek masih saja terdiam membisu. Hanya terlihat oleh ku saat kakek mengedipkan mata bersama dengan tetesan air yang keluar dari tepian mata. Berlinang membasahi kedua pipinya yang sudah sangat mengkriput. Dalam hatiku sangat penasaran, aku  merasa sangat sedih dengan  keadaannya sekarang.

“Kenapa kakek bisa seperti ini?” Apa yang di pikirkan olehnya!” Apa cuma karena kedatanganku kakek jadi bersedih!”

Suasana di ruang tengah menjadi sangat sepi, hanya terdengar suara televisi yang masih menayangkan acara berita. Sementara ku lihat nenek masih sibuk melipat baju di kamar belakang. 

“Nurul..! Maafkan kakek ya? Andai kakek punya banyak uang, kakek ingin sekali memondokkan kamu ke pesantren.” Agar kamu bisa belajar mengaji dan sekolah di madrasah. Ucap kakek pelan sambil terbata-bata. 

Aku yang mendengarkan ucapan kakek barusan, lantas memegang tangan kakek dan menggenggamnya erat. Hatiku bersedih dan akhirnya ikut menangis dalam suasana itu. 

“Iya kakek! Terimakasih!” Aku berjanji akan belajar mengaji di pondok pesantren dengan serius. Biar kakek di sini bersama nenek untuk jaga kesehatan. Aku akan mendoakan kakek dan nenek agar selalu baik dan sehat selalu.

Waktu menjelang sore aku berpamitan untuk pulang kerumah. Saat berpamitan, aku mencium kedua tangan kakek dan nenek. Ada rasa sedih yang terpancar dari kedua bola matanya. Entah apa yang mereka pikirkan akupun enggan untuk menanyakannya. 

Setibanya di rumah, aku merasa sangat senang. Akhirnya liburan ku pergi kerumah kakek terlaksana juga. Meski terasa capek, tidak membuatku menyesal. Aku masih teringat dengan ucapan kakek waktu di ruang tengah saat aku sedang nonton televisi.

Setelah satu bulan berlalu, aku jarang mendengar kabar kakek. Bahkan karena kesibukan ku sekolah membuat aku susah untuk mengatur waktu sekedar bermain ke rumahnya. Hanya di waktu libur kemarin aku menyempatkan berkunjung ke rumahnya. 

Sekarang bertepatan dengan bulan ramadhan akhir-akhir ini aku sangat merindukan kakek dan nenek di Berenung. Bagaimana kabarnya sekarang ya? Aku kangen sekali dengan kakek dan nenek! Semoga kakek dan nenek baik saja!. Doaku dalam ham hati.

Pada malam hari saat menjelang sahur tiba, terdengar ada orang yang mengetuk pintu rumah sambil memanggil nama orang tuaku. Aku yang mendengarnya lantas penasaran, entah siapa dia jam segini ada yang mau bertamu. 

Kalau sengaja mau membangunkan untuk sahur, kenapa mesti memanggil nama ayahku dengan nada yang keras dan berulang-ulang. Mendengar suara itu kian berisik lantas ayah pergi keluar untuk menemuinya.

“Assalamualaikum!” Ungkapnya.
“Iya walaikumsalam..!”  Jawab ayahku singkat.
“Oh..! Ternyata kamu Rohim, ada keperluan apa jam segini sudah ketuk-ketuk pintu!”
“Iya maaf sebelumnya pak, saya ingin mengabarkan kalau itu...! 

“Itu apa Rohim, silahkan ngomong yang jelas!” Ucap ayahku penasaran.
“Itu abah Lihun pak..! Abah Lihun meninggal..!” Balas pak Rohim meyakinkan ayahku.
“Apaa….! Yang benar saja kamu Rohim, jangan bercanda padaku.!” 
“Iya, saya serius pak! Makanya saya kemari sekarang.”

Mendengar penjelasan dari pak Rohim, sontak keluarga ku semakin tidak percaya dengan kejadian ini. Termasuk aku yang satu bulan lalu bermain kerumah kakek masih dalam keadaan sehat walafiat. Kenapa begitu cepat engkau panggil kakek ku ya Allah.! Kulihat ayah dan ibu seketika menangis histeris. 

“Innalillahiwainnailaihi rojiun” 

Akhirnya kami sekeluarga bergegas menuju kerumah kakek dengan perasaan sedih. Aku yang melihat kedua orang tuaku sedang berduka akhirnya ikut menangis juga. Aku masih ingat dengan perkataan kakek waktu itu. 

Keinginan kakek agar aku bisa tinggal di pondok pesantren untuk belajar mengaji. Lantas dengan keinginan kakek membuat ku semakin serius untuk mengaji. Aku akan mendoakan yang terbaik untuk kakek dan nenek. 

Setelah tiba dirumah kakek, aku melihat banyaknya orang sudah berkumpul di sekitar rumah kakek. Ada yang duduk di serambi rumah dan ada pula yang sedang membaca surat yasin bersama-sama. Kemudian ayah dan ibuku menemui nenek yang sedang duduk di kursi sofa ruang tengah. Nenek menjelaskan pada kami, saat kekek sudah meninggal.

“Nek..! Kakek kenapa..!” Kenapa bisa terjadi sekarang! Ucap ku pelan seraya menangis.
“Kakek telah berpulang nak! 

Setelah tadi waktu menjelang sahur nenek bangunkan sudah tidak ada lagi. Waktu nenek panggil kakek untuk segera sahur, sudah tidak ada jawaban lagi. Dan kulihat kakek sudah tidak bernafas lagi seperti biasa. Lantas nenek berteriak minta tolong sama tetangga di sini. Waktu itu, nenek takut nak..! 

Nenek takut kalau kekek meninggal. Ternyata, setelah banyak tetangga yang datang ke sini. Mereka memastikan kalau benar bahwa kakek telah meninggal dunia. 

Aku yang mendengar penjelasan dari nenek, lantas seketika menangis. Aku sangat bersedih telah ditinggalkan oleh kakek. 

“Maafkan aku kakek, semoga amal ibadah kakek di terima di sisi Allah SWT.” Amin..!




Siti Fatwa Sari